Join MultiplyOpen a Free ShopSign InHelp
MultiplyLogo
SEARCH

TH AN KS
FO R
B E I N G
M Y
FR IE ND S


Homeassalamu'alaikum
Free Hit Counter
Machfud Chalimi's Facebook Profile

Photo AlbumpermataAug 25, '09 11:30 PM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd

Blog EntryAug 11, '09 12:17 AM
for everyone
dulu, aku pernah jatuh cinta (atau mungkin tertarik) pada seorang akhwat. sebenarnya aku suka akhwat tersebut sebelum aku sefikrah dengannya. ya sebatas suka. tetapi karena dasar tidak punya basic deket ma cewek. jadinya hanya dipendam. setelah ikut halaqoh, mulai terpikir untuk melupakan. aku belum siap. jawabku waktu itu. banyak sebenarnya temen-temen yang ngompori untuk proses sama dia. tapi dalam hati saya mengatakan, saat ini saya belum siap. biarlah yang lebih siap maju terlebih dahulu. kalau keduluan, ya sudah.
segala aktifitas yang berhubungan dengannya, kucoba untuk sedikit menghindar. walau terkadang ketika ia meminta tolong, aku membantu seperti wajarnya aku membantu temanku yang lain. aku malah lebih sering atau bahkan lebih mudah untuk membantu akhwat yang lain ketimbang si dia. aku menjalani semua hingga tak ada pikiran tentangnya lagi. hingga suatu hari ketika aku mengisi sebuah acara di sebuah SMA negeri, aku mendapati sebuah SMS dari seorang akhwat yang lain yang berisi memintaku untuk menjauhi si akhwat tersebut karena di kalangan para anak-anak putri tindakanku telah di luar batas. kemudian aku membalas SMS tersebut. aku mengatakan "tindakan ana terhadap ukhti **** tak lebih seperti pada akhwat lain. anti tau itu kan. mungkin dulu ana memang pernah suka. tetapi insya Allah Ana udah membuang perasaan itu" dan si akhwat tersebut membalas kalau dia percaya pada ana tapi minta tolong dengan sangat agar sementara tidak lagi berhubungan.
beberapa hari kemudian, sang murabbi mengirim SMS yang berbunyi "Akhi, antum rencana nikah kapan". aku tanpa pikir panjang membalas, "mungkin lima tahun lagi secepat-cepatnya 2010. emang ada apa ustadz?"
Pak ****** membalas "Oh ndak ada apa2. antum bisa ke tempat ana, ada yang perlu ana omongin."
singkat, tetapi lumayan membuat aku shock. setelah sampai di rumah pak ******, akhirnya aku tahu permasalahannya. isu yang berkembang adalah aku dikatakan kalau suka terhadap ukhti ****. jawaban yang membuat aku tergoncang. itu adalah masa lalu. dan saya katakan secara jujur waktu itu, aku memang pernah suka terhadapnya, tetapi itu dulu. walau saat itu aku memang masih ada rasa, karena memang menghilangkan rasa itu sungguh sangat susah. aku katakan dengan jelas aku sudah tak lagi menganggapnya sebagai yang spesial.
pada waktu itu, aku sangat kaget hingga sempat sakit selama hampir dua minggu. bahkan aku didiagnosa aku menderita sirosis hati. setelah menjalani beberapa tes akhirnya Alhamdulillah negatif. hanya masalah psikologis.
setelah bertahun-tahun, sekarang aku mengalami hal yang sama. AKU SEKALI LAGI TERTARIK PADA SEORANG AKHWAT. aku mencoba mengatakan pada ibuku, Apakah aku boleh mendahului mbak untuk nikah. jawabannya tidak. tetapi aku mendapat ijin boleh kalau mbakku sudah nikah. akhirnya aku memutuskan untuk menunggu masa itu tiba, dengan mengikhlaskan diri, mencoba hidup secara wajar. tanpa terpengaruh bahwa aku pernah suka dengan seseorang.

Photo Albumesok kukan tiadaMay 19, '09 8:41 PM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd

Blog EntryMay 4, '09 10:36 PM
for everyone
1 -Salesman

Kapanane onok Salesman Vaccum Cleaner teko nhik omahku.

Ewangku durung sempet ngomong opo-opo moro-moro salesman iku maulangsung nyebarno tembelek wedhus ndhik karpet.

Jarene ngene ''Wis pokoke buk, lek sampek vaccum cleanerku iki gak isoknyedot, tak jamin tak emploke sithok-sithok tembeleke wedhus iku."

Jare ewangku "Peno kepingin didhulit sambel tha ngemploke ?".

"Lho opoko masalae ?'' salesmane takok.

"Lha peno gak ndhelok tha saiki lampu mati ..."


Blog EntryApr 20, '09 8:25 PM
for everyone
dapat dari milis sebelah

Kartini dan Tengkulak Nasionalisme 

Oleh: Dandhy D Laksono (deenda1@yahoo. com)

Raden Ajeng Kartini di Jepara jangan-jangan tak mengenal Cut Nyak Dien sebaik dia mengenal Booij-Boissevain, Van Zeggelen, atau Estelle Zeehandellar; sahabat pena tempatnya bercerita tentang diskriminasi yang dialami perempuan Jawa.

Andaipun Kartini berkirim surat kepada Cut Nyak Dien, pastilah sulit berbalas. Sebab, saat putri ningrat ini baru menikmati dihapusnya tradisi pingit (1900) atas perintah Ratu Wilhemina, Cut Nyak Dien sudah menggantikan Teuku Umar, suaminya, memimpin gerilya di belantara Aceh. Dia bahkan sudah dua kali menjanda, jauh sebelum Kartini dipaksa kawin dengan Bupati Rembang.

Entah apa yang membuat Kartini tak menulis surat ke perempuan-perempuan pejuang di tanah air seperti halnya kepada nonik-nonik Belanda terdidik. Padahal, Pati Unus yang sama-sama asal Jepara pernah bertempur bersama kerajaan nusantara lain, menghadang Portugis di Malaka (1513). 

Tapi sejarah Indonesia terlanjur mencatat surat-surat Kartini sebagai tonggak perjuangan emansipasi perempuan. Sejarah yang dibuat Jakarta, sepertinya enggan menoleh terlalu ke belakang, saat Laksamana Malahayati memimpin 2.000 pasukan Inong Balee mengacaukan barisan Frederic Houtman pada 1599 di pesisir Banda Aceh. Peristiwa ini terjadi 300 tahun sebelum Kartini berkeluh kesah tentang tertindasnya perempuan di Jawa.

Lalu di masa Indonesia ‘modern’ tahun 1999, (lagi-lagi di Jawa) orang meributkan boleh tidaknya seorang perempuan menjadi presiden, hanya karena ingin mengganjal Megawati Soekarnoputri. Sementara di Aceh abad ke-17, Ratu Safiatuddin sudah memerintah disusul Ratu Nur Alam Nakiatuddin, Inayat Zakiatuddin, dan Kumala Syah. 

Itu belum termasuk 16 perempuan dari 73 orang yang duduk di Majelis Mahkamah Rakyat (parlemen) antara tahun 1641-1675, jauh sebelum para aktivis LSM di Jakarta menuntut kuota 30 persen keterwakilan perempuan di DPR dengan rujukan gerakan emansipasi yang ‘diimpor’ dan bukannya dari ‘produk lokal’.

Pemunculan ikon Kartini dan kampanye emansipasi di awal abad ke-20 sejatinya adalah buah dari strategi politik penyelamatan muka pemerintah Belanda kepada dunia internasional. Belanda yang sudah ratusan tahun mengkoloni nusantara, tak kunjung melahirkan perubahan dan modernitas.

Bandingkan dengan Inggris yang juga menjajah India namun sudah melahirkan tokoh-tokoh perempuan lokal seperti Pandita Ramabai yang go internasional. Maka selamatlah wajah politik kolonial Inggris dari tudingan penghisapan dan pembodohan negeri jajahan. Sementara reputasi Belanda di Indonesia hanya sebatas tengkulak pala, lada, kopi, dan gula. 

Dan tak ketinggalan: budaya pergundikan atau nyai.

Karena itu tak heran jika JH Abendanon, mantan Direktur Departemen Pengajaran dari kubu liberal di Nederland, berinisiatif menerbitkan surat-surat Kartini pada 1911 dalam sebuah buku berjudul Door Duisternis tot Licht, yang diterjemahkan secara literal menjadi Habis Gelap Terbitlah Terang. Ikon Kartini lalu dirangkai dengan kebijakan Politik Etis (balas budi) dari Nederland kepada jajahannya, Hindia Belanda. 

Tentu saja Kartini yang bergerak di bidang sastra, bukan pepesan kosong. Meski tak melakukan gerakan ‘konkret’ seperti Dewi Sartika yang membuka sekolah rakyat di Jawa Barat, pemikiran Kartini telah menjadi inspirasi gerakan perempuan di zamannya, hingga momentum Kongres Perempuan I, 22 Desember 1928. Dari situlah tanggal Hari Ibu ditetapkan, bukan adopsi dari perayaan Mother’s Day hasil impor.

Yang patut disayangkan, mengapa pemerintah hanya menggembar-gemborka n Hari Kartini setiap tanggal 21 April yang notabene diambil dari tanggal lahir satu tokoh pahlawan saja. Departemen Pendidikan dan para menterinya di masa Orde Baru tentu harus menjelaskan sebelum orang berpikir bahwa ini cuma politik jawa-centris –atau orang sudah berpikir demikian?— di masa Soeharto berkuasa.

Politik yang memodifikasi strategi kolonial Belanda di awal abad 20. 

Padahal, biasanya pemerintah cenderung mempahlawankan mereka yang berjuang secara fisik, seperti Diponegoro, Hasanuddin, Imam Bonjol, Pattimura, Sudirman, Oerip Soemohardjo, atau Bung Tomo, dibandingkan misalnya Tirto Adhi Suryo (perintis pers).

Lantas mengapa ikon untuk pahlawan perempuan bukan laskar juga seperti Cut Nyak Dien, Cut Nyak Meutiah, atau Christina Martha Tiahahu?

Mengapa saat menyebut pahlawan perempuan, justru yang dimajukan adalah seorang sastrawan. Bukan seorang petarung di mandala.

Institusi TNI sendiri tak pernah memberi nama kodam-kodamnya dengan nama pahlawan perempuan, betapapun heroisme mereka mengalahkan kaum pria di masanya.

Alam berpikir patriarki tanpa kita sadar tumbuh membiak dalam benak kita. 

Nasionalisme & Militerisme
Hal itu biasanya terjadi karena kita sering merancukan antara nasionalisme, patriotisme, dan kemiliteran. Tafsir atas nasionalisme selama Orde Baru memang dimonopoli militer dan diarahkan ke simbol-simbol aktivitas militer.

Rezim Soeharto, misalnya, tetap dianggap nasionalis karena menumpas separatisme di Aceh, Papua, dan Timor Timur demi NKRI, meski memberikan banyak sumur minyak dan konsesi pertambangan kepada perusahaan-perusaha an asing.

Begitu juga dengan pemerintahan Megawati Soekarnoputri yang 'teruji' ke-NKRI-annya karena memberlakukan Darurat Militer di Aceh untuk menumpas GAM, meski di saat yang sama, pemerintahannya melego Indosat, LNG Tangguh, atau mengekspor gas Arun ke luar negeri, di saat industri dalam negeri sedang kesulitan pasokan.

Nasionalisme Indonesia memang penuh paradoks. Dalam aspek sejarah saja, pemerintah menyembunyikan fakta bahwa sepanjang masa penjajahan, banyak anak bangsa yang justru mendukung Belanda. Di dinding Kerkhof di kota Banda Aceh, tertulis 2.200 nama serdadu Belanda yang tewas di medan laga. Tapi bila diperhatikan secara seksama, nama-nama itu tak hanya milik orang-orang bermata biru dan berambut jagung, seperti Wiederholt atau Wetering. Tapi juga nama-nama jawa seperti Soewadi, Raden Nembi, Kartopawiso, atau Lalawi. 

Tentara KNIL (het Koninklijke Nederlandsche Indische Leger) yang dibawa Mayjen Kohler dari Batavia ke Aceh pada 1873 sejatinya memang terdiri dari orang-orang Jawa, Maluku, dan Sunda. Tapi di buku-buku pelajaran sekolah versi Depdibud atau Depdiknas, tak ada penerbit yang menyebut bahwa 82 persen tentara KNIL adalah bangsa kita sendiri yang sebagian besar bergabung karena motivasi ekonomi. 

Demikian juga halnya dengan Divisi Marsosse (Marechaussee) yang terkenal kejam. Tak ada kurikulum pemerintah yang mengajarkan kepada murid SD bahwa gagasan pembentukan Marsose justru dari seorang pribumi bernama Muhammad Arif, putra Minang berprofesi jaksa yang bertugas di Aceh.

Kejujuran memang menyakitkan dan memalukan. Apalagi bila generasi muda kita tahu bahwa pada tahun 1929, serdadu KNIL yang mencapai 37.000 orang itu ternyata 45 persennya adalah orang Jawa. Disusul orang Belanda sendiri (18 persen), lalu Manado (15 persen) dan orang Ambon (12 persen).

Ketika untuk pertamakalinya KNIL dikirim ke Aceh pada 1873, Kohler membawa 15.100 prajurit pribumi, sedangkan prajurit Eropa hanya 11.500.

Itu semua tak ada di kurikulum sejarah versi pemerintah.

Namun bila ada buku pelajaran sejarah yang tak mencantumkan PKI sebagai dalang peristiwa 65, maka Kejaksaan Agung melarangnya, atau masyarakat dari kelompok tetentu, membakarnya. 

Orang Indonesia sepertinya lebih malu disebut komunis, daripada disebut antek kolonial. Padahal, manuver kaum komunis, terjadi hanya dua kali saja: 1948 dan 1965. Dan mereka sudah membayarnya dengan mahal, termasuk anak cucu yang tak berdosa. Sementara Belanda telah membuat kesengsaraan selama 350 tahun dari Merauke hingga Sabang. Tapi tak ada keturunan KNIL yang KTP-nya diberi tanda: EK (eks KNIL).

Mantan KNIL bahkan menjadi presiden kita selama 32 tahun.

Premis-premis di atas tentu hanya simplifkasi dari kompleksnya realitas dan provokasi logika berpikir belaka. Tapi dari permainan logika diaduk fakta ini, kita bisa bercermin bahwa bangsa ini memang tidak konsisten dan kerap memperdagangkan jargon-jargon nasionalisme. 

Padahal, di Jakarta sendiri nasionalisme sudah lama bangkrut dan tinggal jadi komoditi politik belaka. 

Sejak menjadi presiden pada 1967, hingga turun tahta pada Mei 1998, sudah 30 kali Soeharto memimpin upacara kenegaraan 17 Agustus. Tapi setelah lengser, upacara 17 Agustus 1998 pun tak dihadirinya. Padahal, Sekretaris Negara selalu mengundang mantan presiden dan keluarganya. 

Begitu pula dengan Presiden Gus Dur. Setelah turun tahta, Juli 2001, alih-alih datang ke Istana, pada 17 Agustus tahun itu, Gus Dur malah menggelar upacara tandingan di kediamannya di Ciganjur dan di sanalah lagu Garuda Pancasila dipelesetkan. Padahal, aktivis KontraS, Ori Rahman, pernah digebuki anggota Pemuda Panca Marga karena dianggap gagal ‘tes nasionalisme’ gara-gara tak hafal lagu Indonesia Raya.

BJ Habibie juga sama saja. Alih-alih ikut upacara 17 Agustus di jajaran bangku bekas presiden, sejak dipecat MPR pada 1999, dia bahkan tak tinggal di negaranya sendiri dan memilih hidup di Eropa dengan berbagai alasan. 

Megawati juga setali tiga uang. Barangkali karena yang menjadi inspektur upacara (presiden) adalah bekas anak buahnya, ketua umum partai nasionalis itu tak pernah sekali pun menghadiri upacara 17 Agustus, baik tahun 2005, 2007, 2008, dan hampir pasti 2009 (kecuali barangkali menang pilpres). 

Kita akan lihat, apakah setelah tak menjabat menjadi presiden, Susilo Bambang Yudhoyono masih akan ikut upacara 17 Agustus dan duduk di bangku undangan.

Tentu jawaban para bekas presiden dan pendukungnya bisa seperti ini: “Ah, nasionalisme kan tidak hanya diukur dari upacara bendera saja.”

Di masa pemberlakuan darurat militer di Aceh (2003-2005), orang bisa celaka hanya gara-gara tidak ikut upcara bendera karena dianggap tidak NKRI. Harga yang mahal harus mereka bayar untuk merayakan ‘nasionalisme’ simbol ala Jakarta ini.

Ada juga calon presiden yang menolak hasil amandemen UUD 1945 dengan alasan nasionalisme, sementara ketika konstitusi itu sedang dibahas antara 1999-2004, dia sedang sibuk berbisnis dan hidup di Timur Tengah (mungkin karena khawatir terimbas gerakan reformasi yang menuntut agar kasus HAM masa lalunya diusut). Kini dia kembali dan banyak menjejali publik dengan iklan kemandirian bangsa dan sentimen anti-asing.

Belajar dari catatan-catatan di atas, pemilih dalam pilpres nanti agaknya perlu jeli terhadap barang dagangan para tengkulak nasionalisme, yang hanya menjadikan gagasan luhur itu sebagai komoditi politik untuk meraih suara, sembari mendiskreditkan pihak lain dengan stigma sektarianisme.

Nasionalisme bukan monopoli jenderal (apalagi pensiunan) atau politisi sipil. Dan bukan pula monopoli jenis kelamin tertentu.

Selamat Hari Kartini (bagi yang merayakan) ***

Blog EntryApr 17, '09 1:33 AM
for everyone
Ini saya posting dari milis mediacare, semoga berguna
Salam, 

Eva

23 Fakta Tentang Caleg Stress

1. Caleg SK di Dapil I Kabupaten Sumbawa menarik kembali bantuan sebuah mesin genset yang di sumbangkannya ke mesjid. Selain itu, ia juga menarik bantuan dana sebesar Rp 1 juta yang disumbangkannya ke dua mushallah.

2. Caleg AH di Dapil I Kabupaten Sumbawa, sebelumnya ia menyumbang 100 buah kursi plastik dan 25 zak semen ke sebuah MTS di Kecamatan Labangka, Namun karena kecewa tidak meraih suara yang diharapkan, AH menarik kembali kursi dan semen tersebut.

3. Oknum caleg di Kota Sumbawa Besar yang tidak disebut nama dan parpolnya, meminta kembali uang sebesar Rp 20 ribu per orang yang diberikan dengan target 50 hingga 60 suara. Namun di pemilu, perolehan yang ada hanya ada saksi dan keluarga tim sukses.

4. Caleg nomor urut 9 dari Partai Golkar dari Kota Bogor,Yuniar, melalui tim suksesnya berinisial SB, menarik kembali ratusan buku tabungan masing-masing senilai Rp50.000 bertuliskan Karya Nyata Sejahtera yang dibagikan saat kampanye di Kampung Muara, RW 11/14, Kelurahan Pasirjaya,Kecamatan Bogor Barat.Namun saat hasil suara dihitung, dari jumlah DPT yang jumlahnya sekitar 900 suara,nama Yuniar hanya memperoleh di bawah 10 suara di RW 11 dan 14.

5. Caleg Partai Golkar dari Daerah Pemilihan I Dumai Timur Aswin memalui tim suksesnya mencabut kembali lima tiang listrik yang telah dipasang untuk menyalurkan listrik kewarga setempat.

6. Caleg dari Partai Kebangkitan Bangsa (PKB) Kota Banjar, Jawa Barat, Srihayati, 23, ditemukan tewas gantung diri sekitar pukul 07.30 WIB Selasa (14/4).Ibu muda yang mencalonkan diri untuk daerah pemilihan (dapil) I Kota Banjar dengan nomor urut 8 itu ditemukan tewas di sebuah saung bambu di Dusun Limusnunggal RT01/01, Desa Bangunjaya,Kecamata n Langkaplancar, Kabupaten Ciamis.

7. Seorang calon legislatif (caleg) dari Partai Demokrasi Indonesia Perjuangan (PDIP), Pahala Sianipar ditemukan tewas di kediamannya, Senin (19/04) malam. Ia tewas bunuh diri akibat menenggak obat pembasmi serangga di dalam kamarnya. Di kediamannya Jalan Pintu Air, Kecamatan Medan Kota.

8. Tim Sukses (TS) Caleg pun bisa stres bahkan mengakhiri hidupnya. Itu dibuktikan Muhammad Iqbal (28), TS seorang Caleg yang kalah. Lelaki yang menetap di Jalan Eka Surya, Gang Pribadi, Kelurahan Gedung Johor, Medan Johor ini nekat gantung diri di kediamannya, Jumat (10/4). Iqbal adalah TS seorang Caleg untuk DPRD Medan. Sejak dua bulan lalu dia aktif menjadi TS Caleg sebuah Parpol. Karena kesibukan sebelum dan saat kampanye. Lelaki dengan pekerjaan serabutan ini dikabarkan sering tak pulang ke rumah untuk ngurus kemenangan Caleg jagoannya. Karena itu, dia acap bertengkar dengan istrinya.

9. Lazuardi, seorang caleg DPRD Kota Pontianak, Kalimantan Barat, meninggal Senin (13/4) malam lalu. Ia meninggal beberapa jam setelah mengikuti penghitungan suara pemilu. Diduga caleg dari Partai Keadilan dan Persatuan Indonesia (PKPI) ini meninggal karena terlalu lelah dan stres mengikuti rangkaian proses pemilu. Ditambah perolehan suara tak cukup untuk menjadikannya legislator.

10. Sri Sumini, caleg dari Partai Demokrat di Solo, Jawa Tengah, meninggal akibat serangan jantung dan lever pada hari Minggu (12/4). Menurut keluarga, sejak masa kampanye hingga usai pencontrengan sang caleg lebih pendiam dan terkesan menyimpan beban pikiran.

11. Di Cirebon, sebanyak 15 orang caleg mengalami depresi dan memilih melakukan pengobatan spiritual untuk menyembuhkan depresi kepada Ustaz Ujang Bustomi di Desa Sinarancang, Mundu, Cirebon.

12. Seorang calon legislator daerah pemilihan Tangerang, di perumahan elit Alam Sutera Kunciran, stres dan marah-marah karena kalah dalam pemilu legislatif 9 April lalu.Sekitar pukul 17.00 WIB (9/4) saat penghitungan suara dilakukan, seorang pria (40) yang merupakan caleg dari partai tertentu, terlihat frustasi saat mengatahui kalah dalam perolehan suara. Dia merangkak di pinggir jalan dengan membawa-bawa cangkir sambil meminta-minta uang kepada orang yang berlalu lalang, katanya kembalikan uang saya, kata caleg itu.

13. Salah seorang caleg Partai Penegak Demokrasi Indonesia (PPDI) dari Bulukumba; Andi Langade Karaeng Mappangille Minggu (12/4) bersama tim suksesnya nekat melakukan penutupan jalan sepanjang 3 km. Tindakan tersebut diduga akibat perolehan suaranya yang tidak mencukupi menjadi caleg terpilih.

14. Di Ternate, Maluku Utara, seorang caleg berinisial HT meminta kembali televisi yang sudah disumbangkan ke warga. Ini dilakukan karena perolehan suara sang caleg sangat rendah. Kejadian ini terjadi di RT 02 Kelurahan Falawaja II, Kota Ternate Selatan.

15. Seorang caleg di Cirebon, Jawa Barat, kini sering melamun dan mengurung diri. Nasib ini menimpa Iwan Setiawan, caleg Partai Patriot asal Kabupaten Kuningan. Apa yang dialami Iwan ini bisa jadi hanya satu dari banyak kasus yang bakal terjadi. Setelah mengetahui hasil penghitungan suara tidak sesuai harapan, pria berusia 29 tahun ini mendadak menjadi pendiam dan sering mengurung diri di kamar. Keluarganya menduga, perilaku Iwan Setiawan terjadi karena kekalahannya dalam pemilu 9 April lalu. Iwan Setiawan memang telah menghabiskan uang yang banyak untuk kampanye. Setidaknya Rp 300 juta ludes dibuyurkan.

16. Ni Putu Lilik Heliawati (45), caleg nomor tiga Partai Hanura untuk DPRD Buleleng, meninggal dunia secara mendadak di rumahnya Desa Bengkel, Busungbiu, Kabupaten Buleleng.Musibah terjadi Kamis (9/4) malam sekitar pukul 23.30 Wita itu. Heliawati diduga meninggal akibat serangan jantung setelah menerima telepon dari tim suksesnya bahwa perolehan suara yang bersangkutan tidak memenuhi harapan.

17. Caleg nomor urut 15 Daerah Pemilihan (Dapil) berinisial S Sirimau untuk DPRD Kota Ambon, hendak menarik kembali karpet yang telah disumbangkan kepada ibu-ibu pengajian setempat.

18. Caleg DPRD Kulon Progo menarik kembali sejumlah hadiah dan sumbangan yang pernah ia berikan kepada warga Desa Karangsari, Pengasih, Kulon Progo. Caleg yang menarik kembali sumbangan kampanyenya itu, S, caleg perempuan.Saat masa kampanye, S cukup sering memberikan sumbangan dan hadiah kepada warga. Di Dusun Kamal, Karangsari, misalnya, ia memberikan 14 zak semen untuk pembuatan jalan konblok. Menurut warga, S juga memberikan bantuan alat musik drumband dan uang tunai Rp 2,5 juta.

19. Di Kalimantan Tengah muncul dua caleg dan tiga simpatisan partai yang mengalami tekanan psikis. Dua dari lima orang itu mengalami gangguan jiwa ringan atau stres, seorang gangguan jiwa sedang atau depresi. Dua lainnya mengalami gangguan jiwa berat: terus mengoceh, murung, serta tak mau makan serta Minum. Kelimanya kini dirawat di Balai Kesehatan Jiwa Masyarakat Kalawa Atei, Kalteng.

20. Dahlan, caleg DPRD Bulukumba dari Partai Peduli Rakyat Nasional (PPRN). Caleg nomor urut tiga yang bertarung di Dapil I Kecamatan Herlang, Bonto Tiro dan Kajang ini, melakukan aksi penyegelan gedung SDN 225 Kajang-Kajang, Desa Borong, Kecamatan Herlang.Dahlan mulai menyegel sekolah ini sejak Sabtu (11/4) malam lalu dengan cara mengikat pintu gerbang sekolah menggunakan tali. Ia menyatakan, lahan yang ditempati gedung sekolah itu adalah miliknya.

21. Caleg EP dari partai RepublikaN menggusur 42 KK dari lahan tempat mereka tinggal di kawasan Daeo, desa Gura, kecamatan Tobelo, kabupaten Halmahera Utara (Halut). Tergusurnya warga itu dikarenakan ada pengusiran dari pemilik lahan yang beralasan bahwa tempat tinggal warga "menumpang" itu akan dibangun tempat usaha. EP yang merupakan caleg dari partai RepublikaN tak memperoleh satupun suara dari TPS para warga berdomisili, yang menjadi pemicu dari penggusuran tersebut.

22. Tim sukses salah satu caleg dari partai Golkar di Dapil I Ternate
(Ternate Selatan-Moti) yang menarik televisi yang diberikan di pangkalan ojek Falajawa II, Kelurahan Kayu Merah, termasuk merusak pangkalan tersebut hanya beberapa jam setelah penghitungan suara berakhir.

23. Tim sukses Caleg berinisial MG di Kelurahan Jati Ternate melakukanpenarikan televisi dan bantuan semen. Hal ini dilakukan karena suara yang diperolehnya tidak sesuai dengan harapan.

Arif Hidayat, 

EventMar 31, '09 3:55 AM
for everyone
Start:     Apr 12, '09 08:00a
End:     May 12, '09 10:00a
Location:     Buncitan sidoarjo
this is not my wedding. but DE and 3VAL's wedding party. they are my friends. DE is my classmate. trival is my halaqohmate.

Blog EntryMar 20, '09 8:53 PM
for everyone
copas dari grup "sedekah sehari Rp.1000,00"

"'Di... coba lihat, itu yang di depan menawarkan apa...?" Mamah meminta saya untuk memeriksa ketika terdengar seseorang menjajakan sesuatu di depan rumah. Saya pun segera beranjak ke depan, lalu bertanya kepada si bapak di depan, apa yang dijualnya. Setelah itu kembali ke dalam rumah.

"'Mah... Bapak itu menawarkan gula merah."

"Oh, si Bapak yang itu... Beli tiga bungkus," kata Mamah. Mamah sepertinya sudah hapal dengan si bapak penjual itu.

"Mamah, kita kan masih ada gula merah. Kemarin Adi lihat masih ada beberapa bungkus di dapur," ujar saya. Di rumah saya memang memanggil nama diri sendiri ketika bercakap-cakap dengan orang tua.

"Beli aja, 'Di, kasihan... Si Bapak sedang panas terik begini ke sana ke mari menawar-nawarkan dagangannya. Mungkin belum ada yang beli..."
Mamah tetap meminta saya membelinya.

Akhirnya meskipun saya masih bertanya-tanya dengan cara berpikir Mamah, saya pun ke depan lagi dan membeli tiga bungkus gula seperti Mamah minta. Mamah juga sempat ke depan dan menyapa si bapak penjual gula, sambil menawarkan air untuk minum. Bapak penjual gula berterima kasih, tapi dia memilih segera pergi untuk kembali menjajakan gulanya.

Pada suatu hari hujan turun begitu lebatnya, kilat sambar menyambar.
“Di, kamu punya uang berapa sekarang?” terdengar suara mamah mengagetkan.
“Apa ma?”
“Kamu punya uang berapa sekarang?”

Meskipun saya belum memahami benar pertanyaan mamah, saya tetap beranjak dari ruang TV ke kamar untuk mengambil uang tiga puluhan ribu, dan dengan segera memberikan ke mamah. Saya masih bertanya tanya dalam hati, buat apa mamah minjam uang dalam keadaan hujan lebat begini, tidak mungkin mamah mau pergi ke warung atau supermarket terdekat dalam keadaan seperti ini.

“Mamah minjam duit ini dulu ya, nanti malam setelah papa pulang mamah akan ganti”
Saya cuma mengangguk pelan, dengan penasaran saya mengikuti mamah keteras depan dan “Subhanallah. .” ternyata disana ada seorang kakek tua dengan pakaian yang basah kuyup sedang menyeruput kopi panas, disampingnya ada pisang goreng yang juga masih hangat, Saya ingat mamah memang tadi menggoreng pisang dan membuat kopi. Saya cuma memperhatikan mamah berbicara dengan bapak tua itu, ternyata bapak itu berjualan lemari kecil setinggi kira-kira 1 meter dengan cat yang masih kasar dan papan yang kurang rata. Dan mamah ternyata membelinya, Saya sempat mendengar harga lemari itu Rp. 75.000,- dan mamah membelinya tanpa menawar.
“Di, tolong bawa lemari ini”
Saya dengan cekatan membawa lemari itu kedalam, didalam ruangan saya sempat bertanya buat apa lemari ini dan taruh dimana. Bukankah kita sudah punya banyak lemari, saya rasa barang ini tidak perlu.

Mamah dengan tersenyum menjawab, “Kasihan bapak itu, Dia datang dari bogor berjalan kaki keliling, dan belum ada yang beli, Dia cape mana kehujanan lagi..”
Saya diam saja, memang begitulah sifat mamah saya, dan ini bukan yang kedua atau ketiga, sudah sering mamah seperti ini, jadi saya sedikit maklum.

***

Kejadian di atas tertanam kuat pada benak saya. Perlu beberapa lama untuk menyerap dan memahami dorongan kejiwaan apa yang ada di lubuk hati Mamah, untuk membeli barang yang sebetulnya tidak dibutuhkannya. Pembelian yang semata didasarkan pada rasa kasihan kepada penjual itu.

Saya pernah mendengar Mamah di masa anak-anaknya sudah mesti membantu Abah dan Embah (panggilan saya kepada Kakek dan Nenek yang sekarang sudah tiada) dengan berjualan. Barangkali tempaan kehidupan seperti itu termasuk bagian yang membentuk jiwa yang lembut menyayangi orang lain.

Ah... saya jadi malu. Mungkin secara keilmuan saya lebih tahu daripada Mamah tentang arti al-itsar atau mendahulukan orang lain daripada diri sendiri. Satu kondisi puncak seseorang dalam membuktikan persaudaraan dalam keimanan; Barangkali saya lebih tahu juga sifat Nabi Muhammad saw. yang diriwayatkan tak pernah menolak seseorang yang meminta sesuatu kepada beliau. Kalau perlu beliau membantu dengan meminjam dahulu kepada orang lain. Barangkali juga saya lebih hafal ayat "dan barangsiapa dipelihara dari kekikiran jiwanya, maka merekalah orang-orang yang beruntung" (QS. al-Hasyr:9). Akan tetapi hikmah itu rupanya lebih dahulu dimiliki Mamah. Ah... ternyata rasionalitas yang ada di kepala saya amat tipis perbedaannya dengan sikap tidak ber-empati kepada orang lain.

Dan sekarang saya masih terus mendidik jiwa untuk semakin meresapi indahnya bersikap dermawan. Dan juga Sikap memberikan sesuatu kepada orang dengan maksud membahagiakan orang tersebut tanpa meminta imbalan, Sikap ini juga yang coba saya bagi kepada isteri dan anak-anak. Atau mungkin malah isteri saya yang lebih dahulu menangkap hikmah ini dan saya belajar darinya.

***

Sebuah keluarga, seorang ayah, ibu dan empat orang anak, mampir di sebuah rumah makan pada perjalanan pulang mudik lebaran. Suasana pulang mudik mudah terlihat dari isi mobil mereka. Berbagai oleh-oleh dari orang tua memenuhi mobil mulai peuyeum ketan, opak sampai 3 karung beras yang dipanen dari beberapa petak sawah orang tua mereka.


Di tengah suasana makan nampak seorang bapak tua menghampiri meja makan mereka. Bapak itu membawa wadah besi ukuran satu liter yang biasa dipakai para penjual beras di pasar. Bapak itu pun menawarkan berasnya untuk dibeli, seraya menyebutkan kualitas berasnya bagus dan tidah mahal pula.

"Beras Cianjur asli, Pak...?" tanya ayah empat orang anak itu setelah menghentikan suapan-suapan makannya.

"Sumuhun, Cep...," jawab si bapak membenarkan.

"Gimana 'Bu...?" Si ayah mengalihkan pandangannya kepada isterinya. Si isteri menjawab tatapan mata suaminya dengan penuh pengertian.

"Pak, punten dibungkus lima kilo, nya." Si isteri langsung menyampaikan pesanan pembelian kepada si bapak.

"Hatur nuhun, Neng. Bapak bawa beras dan timbangannya ke sini ya...?" kata bapak penjual beras.

"Teu kedah, Pak. Ditimbang di tempat Bapak aja. Nanti beras yang sudah ditimbangnya dibawa ke sini," giliran si ayah menimpali.

Anak-anak di keluarga itu memperhatikan dengan seksama apa yang dilakukan orang tua mereka. Barangkali di benak mereka ada keheranan, mengapa ayah dan ibu membeli beras, sementara di mobil ada 3 karung beras dari kakek mereka...

19 Ramadhan 1427
By:Yudi Priyantoro

Blog EntryMar 1, '09 2:59 AM
for everyone
setelah menunggu sekian lama, kata-kata itu pun terucap. kata I LOVE YOU yang berarti aku cinta kamu. kata yang sangat berarti bagi seorang anak adam hingga ia tetap mampu hidup. ya benar, kata itu pun terucap dari mulut hinata, setelaah menunggu sekian lama. diikuti dengan kalimat "saya tidak takut mati untuk melindungi orang yang saya cintai" dan ketika ketika hinata dibunuh (belum ketahuan mati atau masih hidup) naruto pun berubah hingga muncul enam ekor. pain hanya bilang "my pain is much more than yours"

Dalam sebuat note yang dipaparkan akan sebuah perpolitikan yang
kebetulan mengangkat sebuah partai berasaskan islam, ada sebuah komen
yang menarik sehingga muncul sebuah keinginan untuk memaparkan analisa
yang menarik akan pudarnya penggunaan bahasa jawa kromo (bahasa jawa
yang santun). dalam note itu ada sebuah komentar yang menyatakan akan
invansi budaya sehingga sebuah budaya mulai luruh. dalam tulisan ini
saya mencoba menuliskan analisa singkat saya akan sebuah bahasa yang
lambat laun menghilang entah mengapa.
sebenarnya menghilangnya peredaran bahasa jawa bukan tanpa usaha untuk
melestarikannya. usaha yang dilakukan oleh para pendidik dan para orang
tua. hingga di sekolah tempat saya mengajar, bahasa jawa masuk dalam
kategori bahasa asing dengan bahasa inggris dan bahasa arab. bagaimana
bisa sebuah bahasa yang seharusnya menjadi bahasa pertama atau first
language menjadi bahasa asing. ada beberapa alasan yang menyebabkan hal
ini. tetapi saya hanya menyampaikan bahwa kepudaran bahasa jawa
dikarenakan budaya jawa itu sendiri.
dalam budaya jawa, sangatlah ditekankan penghormatan terhadap orang
yang lebih tua. penghormataan ini bisa berupa sikap yang tunduk dan
menuakan atau bisa juga dengan ekspresi penggunaan bahasa. dalam hal
ini bahasa jawa mempunyai kasta kata. ada ngoko yang biasa digunakan
untuk sesama teman. ada kromo untk bahasa yang lebih santun. atau kromo
inggil untuk penggunaan pada orang yang terhormat. kasta bahasa seperti
ini cenderung membuat para orang tua menggunakan bahasa ngoko atau
maksimal kromo ketika berbicara terhadap orang yang jauh lebih muda
apalagi masih anak-anak. kebiasaan seperti ini yang sebenarnya
menghilangkan peredaran bahasa kromo inggil dengan sendirinya.
Mengapa? dalam teori pembelajaran bahasa, seorang anak akan cenderung
belajar dengan immitation atau meniru. mereka hanya menirukan apa yang
selama ini mereka dengar. jadi ketika apa yang selalu ia dengarkan
adalah bahasa dalam kasta ngoko maka secara otomatis dia akan lebih
mudah mengikuti bahasa ngoko itu. oleh karena kebiasaan yang dianggap
biasa inilah maka bahasa jawa itu hilang. oleh karena itu mulai saat
ini, marilah kita gunakan bahasa jawa yang kromo inggil terhadap para
anak-anak jika kita ingin bahasa jawa tidak hilang seperti
menghilangnya ribuan bahasa asli aborigin yang dikenal mempunyai begitu
banyak dialek. jangan sampai bahasa jawa menghilang seperti bahasa
melayu di singapura. semua karena budaya kita sendiri. budaya jawa.

Blog EntryFeb 19, '09 7:53 PM
for everyone
aku pengen buat lembar analisa soal. pengennya kita masukin jawaban anak-anak terus keluar deh nilainya. sebenarnya sudah beres, masalahnya aku ndak bisa buat jawaban anak yang salah diberi tanda apa gitu. ada yang bisa bantu.

Blog EntryFeb 17, '09 8:41 AM
for everyone
kemarin ada yang minta program buat proteksi folder di flaskdisk. 
program ini tanpa install, tinggal di extract.

Attachment: PasswordProtectUSB3.6.1.rar

Blog EntryFeb 12, '09 8:57 AM
for everyone
dalam perjalanan kuliah saya, mungkin hal yang paling menyakitkan adalah ketika melihat teman-teman yang bisa lulus terlebih dahulu. apalagi mereka yang pernah meminta pendapat tentang skripsi mereka pada saya. ya hingga saat ini saya masih belum menyelesaikan kuliah saya di semester yang ke-10 ini. ada begitu banyak permasalahan yang saya sadar karena kemalasan saya dalam menjalani kuliah. tetapi diluar itu ada begitu banyak masalah yang timbul di luar prediksi saya.
dalam menulis skripsi saya cenderung mengikuti apa kata hati, sehingga teman2 banyak melihat saya sebagai orang yang cenderung idealis. tapi hal terjadi karena saya berpikir ini adalah hal yang paling mudah yang bisa saya pikirkan. hingga akhirnya belum ada seorang dosen pun yang siap mendampingi saya dalam menyelesaikan skripsi. dosen yang kemarin give up. kemarin coba mengajukan hingga kini belum ada kepasstian. ada ketakutan akan kehilangan moment dalam menulis. akhirnya terpikir untuk skripsi mandiri.

siapa aja dosennya terserah, yang penting ada atas nama. semua dikerjakan sendiri. mungkinkah?

Blog EntryFeb 12, '09 8:42 AM
for everyone
bagi sebagian orang, ini hanya sekedar wacana. bagi yang lain ini adalah mustahil. bagi sebagian besar orang indonesia, mimpi kali ye...!

berpikir positive bisa diawali dengan kebiasaan memandang setiap sesuatu dari hal yang menarik. kalau saya, pikiran pertama setiap ketemu atau kenal orang "apa yang hebat dari orang ini ya." bukan hal yang mudah memang. tapi alhamdulillah obsesi itu bisa jadi kenyataan, tapi kadangkala kebablasan. lihat sinetron, yang kepikir malah: oh ternyata begitu ya sikap orang kalo blabalabal. ato pas lihat pengamen: hebat ya mereka punya semangat untuk terus keliling. pas ketemu orang jual mie ayam, orang ini hebat banget bisa dorong gerobak dengan beban yang cukup berat. lihat murid-muridku, mereka hebat banget ya mampu belajar banyak bidang studi.

dengan gaya berpikir seperti ini saya selalu merasa kurang dan kurang. pengen terus  memperbaiki kualitas diri. hidup seperti selalu penuh semangat. hal ini saya dapatkan dari kebiasaan saya membaca komik  yang dimana hampir selalu tokohnya mampu melihat nilai positif dari orang di sekelilingnya.

Blog EntryFeb 12, '09 8:42 AM
for everyone
bagi sebagian orang, ini hanya sekedar wacana. bagi yang lain ini adalah mustahil. bagi sebagian besar orang indonesia, mimpi kali ye...!

berpikir positive bisa diawali dengan kebiasaan memandang setiap sesuatu dari hal yang menarik. kalau saya, pikiran pertama setiap ketemu atau kenal orang "apa yang hebat dari orang ini ya." bukan hal yang mudah memang. tapi alhamdulillah obsesi itu bisa jadi kenyataan, tapi kadangkala kebablasan. lihat sinetron, yang kepikir malah: oh ternyata begitu ya sikap orang kalo blabalabal. ato pas lihat pengamen: hebat ya mereka punya semangat untuk terus keliling. pas ketemu orang jual mie ayam, orang ini hebat banget bisa dorong gerobak dengan beban yang cukup berat. lihat murid-muridku, mereka hebat banget ya mampu belajar banyak bidang studi.

dengan gaya berpikir seperti ini saya selalu merasa kurang dan kurang. pengen terus  memperbaiki kualitas diri. hidup seperti selalu penuh semangat. hal ini saya dapatkan dari kebiasaan saya membaca komik  yang dimana hampir selalu tokohnya mampu melihat nilai positif dari orang di sekelilingnya.

Blog EntryFeb 11, '09 9:36 PM
for everyone
niatnya mau ngubah tampilan. otak-atik sana-sini. pas dah selesai, terus disimpan jadinya ada yang janggal, 
ada yang bisa bantu?

Blog EntryFeb 10, '09 9:45 AM
for everyone
beberapa hari yang lalu entah mengapa ada dorongan yang sangat kuat untuk menikah. di tengah kebimbangan tersebut, terbersit satu ingatan akan Allah untuk mendapat jawaban atas kegelisahan yang terjadi. pagi harinya mencoba mengkonsultasinya pada ibu tercinta (hehehe... beliau tuh idola kehidupan kedua setelah Muhammad sang Rasul). ada satu kata yang cukup membuatku tenang dan juga khawatir. lha kok? ibu bilang selama mbak belum nikah, ndak boleh.
ada temen yang bilang, "alah akh, wong itu lho hanya adat bukan masalah syar'ie."
memang mendahului kakak untuk nikah itu ndak masalah dalam syari'at. masalahnya apakah itu baik. setelah memperhitungkan segala hal ditambah keyakinan yang semakin kuat setelah istikhoroh, akhirnya memutuskan untuk menahan diri terlebih dahulu dengan berusaha mencarikan jodoh yang telah ditetapkan untuk mbak (semoga tahun ini mbak bisa nikah).
kemudian ada yang tanya, "emang ente dah ada calon?"
ya belum lah! tapi kalau syarat-syarat umum kayaknya ada (boleh kan, kalo buka-bukaan di sini? kali ada yang bantu nyariin nanti)
banyak sekali syarat yang pengin diajuin termasuk syarat titipan dari ibu (hehehe... anak mama)

1. 2 tahun di atas -  2 tahun di bawah
   
maksudnya bolehlah lebih tua 2 tahun, karena saat ini belum siap menata hati untuk yang lebih dari itu. 2 tahun lebih muda? lebih juga ndak apa-apa yang penting memenuhi syarat di bawah

2. kalem tapi ceria
   
wah apalagi itu? maksudnya lebih orang yang ceria tapi kalem tidak meledak-ledak. kan enak kalau pengin diskusi bawaannya ceria terus.

3. tidak lebih dari 100 km

maksudnya? ini adalah titipan ibu. ibu ndak suka punya besan yang rumahnya jauh, jadi susah silaturrahimnya.

4. siap berkembang bersama

kalau yang ini, sebenarnya semua orang penginnya itu. tapi ditegaskan lagi biar jelas.

5. syukur-syukur hafal Al Quran

ini hanya keinginan, kalau tidak ya ndak apa-apa

6. guru

biar bisa diajak rembugan kalau lagi bingung waktu mau ngajar. tapi ndak juga ndak apa-apa.

7. DLL


terakhir hanya sebatas doa yang terucap, semoga bisa sabar menahan dorongan nafsu yang bisa datang kapan saja.

Photo AlbumdEsainFeb 8, '09 2:12 AM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
mungkin nanti kalo ada yng baru tak jadiin satu

Blog EntryFeb 7, '09 12:37 AM
for everyone
Ulama, Cendekiawan, dan Mujahid Tarbiyah

Pengabdian kepada umat harus senantiasa dilakukan secara kaffah, total dan maksimal. Demikian prinsip yang mengakar kuat di jiwa (alm) KH. Moh. Tidjani Djauhari, M.A. hingga maut menjemputnya, Kamis, 27 September 2007. Ibarat matahari, kehadiran Tidjani, tidak saja sebagai penebar cahaya, ia adalah cahaya itu sendiri yang mampu menerangi ruang kesadaran umat Islam dari segala penjuru.

Matahari Itu Terbit

Moh. Tidjani dilahirkan pada 23 Oktober 1945 di Prenduan, sebuah desa kecil 22 km di sebelah timur kota Pamekasan dan 30 km di sebelah barat kota Sumenep. Kelahirannya menyempurnakan suara genderang kemerdekaan bangsa Indonesia dari cengkraman kolonialisme. Mendidihkan gemuruh jihad para mujahid fi sabilillah ketika mempertahankan harkat dan martabat bangsa Indonesia dengan segala jiwa dan raga. Saat itu, Prenduan, juga kota-kota lainnya di Indonesia, berada dalam euforia kemerdekaan setelah 350 tahun lamanya hidup dalam kerangkeng penjajah.

Moh. Tidjani adalah putera keempat dari tujuh bersaudara. Ayahnya, KH. Djauhari Chotib, adalah seorang ulama besar, tokoh Masyumi, dan pendiri Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan. Kepemimpinan KH Djauhari di Hizbullah, berpengaruh besar terhadap pembentukan karakter dan mental kepemimpinan Tidjani di masa mendatang.

Ditilik dari silisilah ayahnya, ada darah keturunan KH. As’ad Syamsul Arifin, ulama kharismatik pendiri PP. Salafiyah Syafi’iyah, Situbondo, mengalir di jiwanya. “Almarhum Kiai As’ad Syamsul Arifin adalah sepupu dari nenek saya. Jadi masih keluarga sendiri,’ tukasnya suatu ketika. Sedangkan dari pihak ibunya, Nyai Maryam, ia adalah keturunan Syaikh Abdullah Mandurah, salah satu muthowib di Mekkah asal Sampang, Madura, yang banyak melayani jamaah haji Indonesia.

Sejak kecil, Moh. Tidjani tumbuh berkembang dalam ranah pendidikan Islam yang sangat kental. Hal itu tak lepas peran ayahnya, Kiai Djauhari, yang berobsesi kelak Tidjani mampu menjelma pribadi muslim yang memiliki mental dan kepribadian yang tangguh. Karena itu, Tidjani kecil sangat akrab dan menikmati pendidikan keagamaan yang telah diterimanya sejak kecil. Tahun 1953, Tidjani menapakkan kakinya di bangku Sekolah Rakyat (SR) dan Madrasah Ulum Al-Washiliyah (MMA). Di sinilah, ia memulai belajar dasar-dasar ilmu pengetahuan. Hari-hari baginya adalah kesempatan emas untuk mengasah diri dan memperluas wawasan keilmuan. Tidjani sebagai matahari kecil mulai menebarkan cahaya. Cahayanya menelisik dan meranumkan senyum masyarakat Prenduan saat itu yang menaruh harapan besar di pundaknya.

Dari Gontor ke Saudi Arabia

Mengetahui minat dan bakat intelektual yang terpendam dalam Tidjani cukup besar, tahun 1958, Kiai Djauhari mengirimnya untuk nyantri di Pondok Modern Darussalam Gontor. Apalagi, Kiai Djauhari cukup kagum dengan sistem dan pola pendidikan modern yang diterapkan di pondok pimpinan KH. Imam Zarkasyi itu. Sebuah pondok yang tidak mengenal kamus dikhotomi antara pendidikan agama dan pendidikan umum. Di sinilah, Tidjani memulai petualangan ilmu pengetahuannya. Tidak saja ilmu-ilmu keagamaan an sich yang ia pelajari, melainkan juga keterampilan dasar kepemimpinan dan manajemen. Tidjani dikenal santri yang cerdas. Tak ayal, prestasi akademik tertinggi pun selama nyantri Gontor diraihnya.

Bulan Januari 1964, Tidjani tamat dari KMI Gontor dan melanjutkan ke Perguruan Tinggi Darussalam (PTD) (ISID sekarang, red) sekaligus menjadi guru KMI Gontor. Waktu itu, Tidjani dipercaya sebagai sekretaris Pondok dan staf Tata Usaha PTD. Jabatan ini tergolong baru di Gontor. Jadilah Tidjani sebagai sekretaris pertama di Pondok Modern Gontor. Posisi sebagai sekretaris ia manfaatkan dengan maksimal. Jabatan inilah yang memungkinkannya untuk melakukan interaksi secara luas dengan berbagai pihak secara intens, tak terkecuali dengan (alm) KH. Imam Zarkasyi, yang kelak menjadi mertuanya, setelah Tidjani mempersunting putrinya, Anisah Fathimah Zarkasyi. Inilah kado paling berharga dalam petualangan panjang Tidjani belajar di Gontor, sekaligus menandai lahirnya babak baru komunikasi edukatif antara Al-Amien dan Gontor.

Setelah mengabdi setahun di Gontor, tahun 1965, Tidjani melanjutkan studinya di Universitas Islam Madinah. Ia diterima di Fakultas Syariah. Kesuksesan studinya di universitas ini, di antaranya, berkat usaha kakeknya, Syeikh Abdullah Mandurah. Tahun 1969, Tidjani tamat belajar tingkat license dari Fakultas Syariah Jamiah Islam Madinah dengan predikat mumtaz. Tak puas, tahun 1970, Tidjani melanjutkan studi magisternya di Jamiah Malik Abdul Aziz, Mekkah, hingga akhirnya lulus tahun 1973, dengan tesis “Tahqiq Manuskrip Fadhail Al-Quran wa Adaabuhu wa Muallimuhu li-Abi Ubaid Al-Qosim” (Keistimewaan Al-Quran: Etika dan Rambu-rambunya dalam Perspektif Abu Ubaid Al-Qosim). Sebuah kajian mendalam tentang sebuah manuskrip kitab tentang Al-Quran yang dikarang oleh Abu Ubaid Al-Qosim, seorang ulama Syam, yang hidup sezaman dengan Imam Syafi’ie. Bahasa asli kitab ini masih menggunakan bahasa Romawi. Untuk kepentingan inventarisasi dan pendalaman bahan penelitian ini, Tidjani menjelajahi perpustakaan-perpustakaan di Turki, Jerman, Belanda, Amerika Serikat, Inggris, Perancis, Spanyol hingga Mesir. Alhasil, penjelajahan intelektual-akademisi yang cukup melelahkan itu mengantarkannya meraih predikat mumtaz (cum laude) dari Jamiah Malik Abdul Aziz, Mekkah.

Selain aktivitas kampus, sejak 1967-1986, Tidjani aktif berkiprah dalam Persatuan Pelajar Indonesia (PPI), Saudi Arabia, baik sebagai sekretaris, ketua, dan terakhir tercata sebagai penasihat PPI.

Menggayuh Karier di Rabithah ‘Alam Islami

Kisah ini bermula ketika M. Natsir – dai, ulama, politisi, ketua Partai Masyumi, dan mantan Perdana Menteri Pertama Republik Indonesia (1950-1951) — menghadiri undangan sebagai tamu pemerintah Saudi Arabia untuk mengetahui tim ulama dari Saudi Arabia, Irak, Tunisia, Maroko dan Mesir guna mengantisipasi problematika tanah Quds setelah jatuh ke tangan Zionis Yahudi tahun 1967. Saat itu, M. Natsir tercatat sebagai anggota Rabithah Alam Islami dan Muktamar Alam Islami. Kedatangan M. Natsir dimanfaatkan oleh Tidjani untuk berkenalan dan bersilaturrahim. Tidjani mengagumi sosok M. Natsir sebagai pibadi besar dan berwibawa. Tidjani masih tercatat sebagai mahasiswa di Jamiah Islamiyah Madinah.

Dalam kunjungan selanjutnya, M. Natsir mendengar ada putra Indonesia yang meraih predikat terbaik di Jamiah Malik Abdul Aziz, Mekkah. Mengetahui itu, M. Natsir takjub dan segera mencari informasi siapa putra Indonesia itu. Yang kemudian diketahui bernama Moh. Tidjani. Atas prestasi yang dicapainya itu, tahun 1974, M. Natsir merokemendasikan Tidjani untuk diterima bekerja di Rabithah Alam Islami. Sejak tahun itulah, Tidjani resmi berkarier di Rabithah Alam Islami dengan jabatan pertama sebagai muharrir (koresponden) yang tugas mengurusi surat-menyurat yang datang dari berbagai penjuru dunia. “Pak Natsir minta saya agar tidak pulang ke Indonesia dan belajar dulu di Rabithah. Saya menerima nasihat tersebut,” kenang Tidjani.

Kariernya di Rabithah melesat cepat. Beberapa jabatan penting pernah direngkuhnya, antara lain: Anggota Bidang Riset (1974-1977), Sekretaris Departemen Konferensi dan Dewan Konstitusi (1977-1979), Direktur Bagian Penelitian Kristenisasi dan Aliran-aliran Modern yang Menyimpang (1979-1981), Direktur Bagian Keagamaan dan Aliran-aliran yang Menyimpang (1983-1987), dan Direktur Bagian Riset dan Studi (1987-1988).

Keaktifannya di Rabithah Alam Islami inilah yang mengantarkannya menjelajahi berbagai negara di belahan dunia: Eropa, Afrika, Amerika, dan Asia. Di antaranya, tahun1976, Tidjani mengikuti Konferensi Islam di kota Dakkar, Senegal. Pada tahun yang sama, hadir dalam Konferensi Islam Internasional di Mauritania, Afrika. Tahun 1977, Tidjani mengikuti Seminar Hukum Islam di Chou University, Tokyo, Jepang. Sementara pada tahun 1978, Tidjani mengikuti Pertemuan Lintas Agama di Velenova University, Philadelpia dan Dallas, Texas, Amerika Serikat.

Antara tahun 1978-1982, Tidjani terpilih sebagai salah wakil Rabithah yang dikirim sebagai tim rekonsiliasi untuk menuntaskan masalah muslim Mindanau, Piliphina. Tugas yang sama dibebankan kepadanya, ketika tahun 1983, dikirim sebagai tim rekonsiliasi masalah politisasi agama di Burma dan konflik di Bosnia. Pada tahun ini pula, Tidjani mengikuti Pertemuan Lintas Agama di Birmingham dan Leeds University, Inggris.

Berlabuh di Al-Amien Prenduan

Ketika kariernya Rabithah Alam Islami berada di puncak. Tidjani memutuskan untuk pulang kampung halaman. Ibarat kacang, Tidjani tidak pernah lupa kulitnya. Bulan Januari 1989, Tidjani beserta keluarga tiba di Indonesia setelah kurang lebih 23 tahun lamanya bermukin di Tanah Suci, Mekkah. Tidjani sudah mencicipi asin garam perjalanan dakwah lewat organisasi Rabithah Alam Islami. Bahkan, manis pahitnya kebudayaan Timur Tengah sudah ia rasakan. Dalam komunikasi Bahasa Arab, boleh dikatakan, lisan Tidjani adalah lisan Arab.

Kepulangannya di Al-Amien Prenduan disambut gegap gempita. Tidjani memaknainya sebagai babak baru perjalanan dakwahnya, khususnya di bidang pendidikan. Misinya adalah merealisasikan dan menyempurnakan Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan, yang telah didirikan oleh ayahnya, Kiai Djauhari Chotib, tahun 1971, menjadi lembaga pendidikan Islam ala Gontor yang berkualitas, kompetitif, dan bertaraf internasional.

Bersama Idris Jauhari, adiknya, yang lebih awal eksis membina pondok sejak tahun 1971 dan Maktum Jauhari, adiknya, yang tiba dari Kairo, Mesir, setahun kemudian. Serasa mendapat amunisi baru, ketiganya, ditambah unsur pimpinan yang lain, bergerak cepat melakukan pembenahan dan penyempurnaan. Hasilnya, di antaranya, adalah pembangunan Masjid Jami’ Al-Amien (1989) dan membuka Ma’had Tahfidzil Quran (MTA) (1991) serta mengembangkan status Sekolah Tinggi Agama Islam menjadi Institut Dirosah Islamiyah Al-Amien (IDIA), dan pendirian Pusat Studi Islam (Pusdilam) (2003).

Dalam kurun waktu 18 tahun (1989-2007), Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan telah menjelma sebagai pondok yang representatif, disegani, dan berwibawa, sekaligus sebagai pondok tempat menyiapkan kader-kader pemimpin umat yang kompeten dan mumpuni. Hingga September 2007, sebanyak 5.243 santri, yang berdatangan dari seluruh penjuru Indonesia dan negera-negara tetangga, belajar dan menempa diri di Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan.

Dari Madura untuk Bangsa

“Jangan membangun di Madura, tapi bangunlah Madura,” demikian tegas Tidjani, pada sebuah kesempatan, menyikapi rencana industrialisasi Madura yang didahului dengan pembangunan jembatan Suramadu. Timbulnya dampak negatif-destruktif dari pembangunan Suramadu menjadi kekhawatiran banyak pihak, tak terkecuali Kiai Tidjani. Bersama ulama se Madura yang tergabung dalam Badan Silaturrahim Ulama Pesantren Madura (BASSRA), Tidjani melakukan serangkaian kegiatan, agar nantinya, pembangunan di Madura berjalan dalam koridor yang selaras dengan nilai-nilai budaya Madura yang islami. Ia menolak keras eksploitasi Madura demi kepentingan ekonomi semata.

Ide segarnya tentang “provinsiliasi Madura” hingga menjadikan Madura sebagai “Serambi Madinah” mendapat respon positif dari berbagai kalangan. Respon itu seperti tertuang dalam Hasil Kesimpulan Seminar Ulama Madura tentang Pembangunan dan Pengembangan Madura (1993), Piagam Telang Madura (1997), Rumusan Sarasehan “Menuju Masyarakat Madura yang Madani” (1999), Deklarasi Sampang (2006).

Terkait pebangunan di Madura, Tidjani menegaskan ada dua (2) hal yang harus segera dilakukan. Pertama, pemberdayaan. Pemberdayaan masyarakat Madura berdasarkan nilai-nilai keimanan dan ketakwaan yang kokoh untuk meminimalisir dampak pembangunan. Kedua, pendidikan. Pendidikan terkait dengan penyiapan SDM yang berkualitas, hingga nantinya masyarakat Madura mampu memanfaatkan pembangun bukan malah dimanfaatkan oleh pembangunan. Nantinya, masyarakat Madura tidak lagi menjadi “orang asing” di negerinya sendiri.

Layaknya seorang kiai, sayap dakwah yang dikembangkan Tidjani tidak saja berputar pada persoalan Madura saja, totalitas pengabdian dan kiprahnya menjangkau segala persoalan bangsa, baik sosial, budaya, ekonomi, pendidikan, dan lainnya.

Tidjani berusaha merekam segala detail persoalan dan problematika yang dihadapi umat Islam saat ini. Ketika aksi pornografi dan pornoaksi merebak dan meresahkan masyarakat, Tidjani beserta ulama BASSRA membuat pressure agar persoalan ini segera dituntaskan. Saat umat Islam Palestina diinjak-injak martabatnya oleh Zionis Yahudi, Tidjani, lewat BASSRA, mengutuk keras aksi biadab Zionis Yahudi dan menyerukan aksi solidaritas dari seluruh umat Islam sedunia.

Kecendekiawanan dan ketokohannya memantik apresiasi positif dari berbagai pihak. Berbagai posisi penting pernah diembannya. Antara lain, Ketua Forum Silaturrahmi Pimpinan Pondok Pesantren Alumni Pondok Modern Gontor (1992-2007), Dewan Pakar ICMI Jatim (1995-2000), salah seorang pendiri Badan Silaturrahmi Pondok Pesantren (BSPP) (1998), dan Ketua II Majlis Ma’had Aly Indonesia (2002)

Setelah 62 Tahun

Setelah 62 tahun, Tidjani mengabdikan dirinya untuk umat dan bangsa. Allah memanggilnya ke haribaan-Nya dengan senyum, Kamis dini hari (27/9) sekitar pukul 02.00 WIB di kediamannya. Almarhum wafat akibat penyakit jantung. Pengasuh Pondok Pesantren Al-Amien Prenduan ini meninggalkan seorang istri (Ny. Hj. Anisah Fathimah Zarkasyi), 3 putra (KH. Ahmad Fauzi Tidjani, MA, Imam Zarkayi, Abdullah Muhammadi), 5 putri (Hj. Shofiyah, Hj. Aisyah, Afifah, Amnah, dan Syifa’), dan 2 cucu (Syafiqoh Mardiana dan Ayman Fajri).

Selamat jalan Kiai! Semoga Allah menerima amal baik dan menempatkan Kiai di surga-Nya. Amin.


Photo Albumpesenan desainFeb 1, '09 9:49 PM
for everyone
ddd
dThumbnaild
ddd
hasil coba-coba. ada yang minta ya dikerjain

   
ldeath42 wrote on Jun 20, '10
Askum.....................
mefly wrote on Dec 20, '09
Assalamu'alaikum... salam kenal

dan numpang promo, barangkali berkenan
Mhn maaf... semoga tidak menggangu
Kalau berkenan menyimak risalah hal meraih pendapatan dengan tanpa setor modal sepeserpun alias gratisssssss, kami persilahkan mengunjungi

http://meftah-mefly.blogspot.com/2009/12/raih-pendapatan-tanpa-setor-modal.html

dan

http://meftah-mefly.blogspot.com/2009/12/buat-account-tarik-dana-di-paypal.html

semoga manfaat
mupengml wrote on Jul 31, '09
Assalamualaikum
met Milad yahhh
Barokalloh :)
mayhasyaza wrote on Jul 21, '09
Assalamualaikum
ikut nilik ya..
nailul81 wrote on Jun 30, '09
bro, bosen bro, ikhwan-ikhwan kok jarang mengupdate MPnya ya?
muslie wrote on Jun 30, '09
hiii semua, numpang lewat ya =)
nailul81 wrote on Jun 2, '09, edited on Jun 2, '09
kawanbaikanda wrote on May 13, '09
Assalamu'alaikum... nyambung kontak ahh,
niar gak putus
emsichalimi wrote on Apr 30, '09
akh yaopo carene memasukkan link facebook di blog? seperti punya antum di atas
wah lupa tuh akh. kalo ndak salah masang banner ato apa gitu. terus di kopas.
nailul81 wrote on Apr 29, '09
akh yaopo carene memasukkan link facebook di blog? seperti punya antum di atas
nailul81 wrote on Apr 27, '09
antum mau berapa kilo?
dua kilo aja.
ane ke sana atau antum bawakan?
nanti tak ganti
emsichalimi wrote on Apr 26, '09
ya jelasin dikit dong bro nanti ditafsirkan yang "iya-iya"
by the way
bisa beli contoh beras yang antum bilang kemaren nggak?
suapaya nanti kalo ana tawarkan ke tetangga ada gambaran barangnya
ini sebenarnya kritik untuk semua orang yang sering kali menuhankan banyak hal. kalau beras bisa akh. antum mau berapa kilo?
nailul81 wrote on Apr 26, '09, edited on Apr 26, '09
tuhan (pake huruf kecil) bisa diartikan sendiri
ya jelasin dikit dong bro nanti ditafsirkan yang "iya-iya"
by the way
bisa beli contoh beras yang antum bilang kemaren nggak?
suapaya nanti kalo ana tawarkan ke tetangga ada gambaran barangnya
kawanbaikanda wrote on Apr 26, '09
ini abis ngelmu filsafat nih... sampe aye kagak paham...
La ila ha illalloh udahh pas kan?
emsichalimi wrote on Apr 26, '09
tuhan (pake huruf kecil) bisa diartikan sendiri
nailul81 wrote on Apr 24, '09
Lhoalaaaaah "Tuhan yang hilang?" maksudnya?
friewan wrote on Apr 23, '09
Mampir bentar...
kawanbaikanda wrote on Apr 13, '09
infogolput wrote on Apr 9, '09
kawanbaikanda wrote on Mar 29, '09
nice music pak.. make me cool n relax.